Tesis berjudul “Ulama dan Nasionalisme: Studi Puisi Karya KHR. Asnawi & KH. Ilyas Syarqawi” adalah sebuah karya yang ditulis oleh mahasiswa asal Majalengka bernama M. Fahmi Saifuddin yang baru saja menamatkan studi S2-nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Adab dan Humaniora beberapa waktu lalu. Beberapa bulan setelah lulus, tesisnya ternyata mendapatkan sambutan hangat dari beberapa pihak hingga akhirnya dibukukan dan disebar untuk umum. Penasaran dengan isi bukunya? Berikut sinopsi buku yang dihasilkan dari tesisnya.

Judul Buku: Ulama dan Nasionalisme: Studi Puisi Karya KHR. Asnawi & KH. Ilyas Syarqawi

Penulis: M. Fahmi Saifuddin

Tebal: 148 Halaman

ISBN: 978-602-53880-4-0

Dalam sejarah panjang kemerdekaan Indonesia, salah satu yang kita kenal adalah lagu-lagu yang berisi semangat kemerdekaan atau yang mengapresiasi pencapaian Indonesia menjadi sebuah bangsa yang akhirnya secara de facto di 17 Agustus 1945 terbebas dari penjajahan. Lagu-lagu kemerdekaan, yang adalah bagian dari karya seni sastra pada syair-syairnya, pun marak diperdengarkan bahkan sampai saat ini. Namun pertanyaannya, mengapa hampir seluruh lagunya berbahasa yang kita sebut sekarang sebagai bahasa Indonesia?

Padahal, dengan sejarah panjang masyarakat Nusantara yang sebenarnya sejak dulu sudah kosmopolitan, beragam, dan berinteraksi dengan berbagai suku bangsa, ketika pada akhirnya masyarakatnya bersatu sebagai sebuah bangsa bernama Indonesia dan terbebas dari penjajahan, apakah ekspresi seni yang mengapresiasi dalam bentuk lagunya, hanya dalam bahasa Indonesia saja? begitu kira-kira yang dicoba dijawab oleh M. Fahmi Saefuddin dalam tesisnya yang mengulas dua syair berbahasa Arab yang mengapresiasi kemerdekaan karya dua ulama asal Kudus, Jawa Tengah dan pulau garam, Madura. Seperti apa struktur, isi, dan konteks historis dalam syair tersebut? silakan hubungi penulis untuk mendapatkan bukunya.

Penulis bisa disapa melalui kanal media sosialnya di:

Facebook: Fahmi Saefuddin

Instagram: @fahmisae92

Youtube: Indonesia Sadar

Selengkapnya baca di sini.

Ahmad Saeroji
Mahasiswa asal Majalengka yang tak suka kucing, tapi suka makan sego kucing.

    You may also like

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Budaya