Hari ini, 9 Desember 2020 adalah pemilihan pada pilkada serentak. Meskipun situasi Indonesia tengah berjibaku dengan Pandemi Covid-19, pilkada tetap dilaksanakan. Daerah yang akan melaksanakan pemilihan serentak di akhir tahun 2020 sebanyak 270 daerah dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Sejumlah lembaga survei telah merilis data hasil survei tentang elektabilitas kandidat di setiap daerah. Ada lembaga survei yang menyatakan pasangan “A” menang dengan selisih 5%, selisih 10%, selisih 20%, dan juga kalah dengan selisih presentase yang telah disampaikan.

Rilis dan laporan dari lembaga survei tersebut seringkali menjadi bahan evaluasi dan koreksi bagi tim sukses dan kandidat agar bekerja lebih baik lagi.

Kita tahu, Pemilihan Gubernur DKI tiga tahun lalu telah memberi hasil yang sangat luar biasa di luar dugaan dengan meloloskan pasangan Anis – Sandi ke putaran kedua, dan meninggalkan kandidat terkuat Agus – Sylvi.

Beberapa lembaga survei menjelang pemilihan putaran pertama, seperti  Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik, Poltracking Indonesia, hingga Alvara Research Center menempatkan pasangan Anis-Sandi sebagai pasangan cagub-cawagub dengan elektabilitas paling rendah di antara ketiganya.

Namun apa yang terjadi, meski berada di peringkat kedua dari hasil rekapitulasi yang dikeluarkan KPU, Anis-Sandi menang dengan selisih yang cukup jauh meninggalkan Agus – Sylvi dan bahkan hanya selisih 3 persen dari Ahok – Djarot, dan dengan kemenangannya di putaran kedua, membuktikan bagaimana model kampanye yang diterapkan oleh tim pemenangan mereka telah tepat sasaran sesuai psikologis pemilih di DKI.

Sementara, di Jawa Barat kasus serupa juga terjadi. Pasangan Sudrajat-Syaikhu yang diusung oleh partai Gerindra, PKS, dan PAN telah melampaui survei yang dirilis oleh lima lembaga survei yang menempatkan mereka di bawah pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (PPP, PKB, NasDem, dan Hanura) dan Deddy – Dedi (Demokrat dan Golkar), yang masing-masing menjadi kandidat terkuat satu dan dua.

Bahkan Indo Barometer memprediksi Sudrajat-Syaikhu hanya memperoleh 6 persen suara dari hasil survei yang mereka keluarkan. Jauh di atas Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dengan 36,9 persen dan Deddy – Dedi 30,1. Sudrajat – Syaikhu hanya satu persen lebih baik dari pasangan TB Hasanuddin-Anton dengan 5 persen.

Tak jauh berbeda dengan keempat lembaga survei lain yang hampir semuanya memprediksi suara pasangan Sudrajat-Syaikhu tak akan lebih dari 10 persen. SMRC, lewat survei yang mereka keluarkan memprediksi Sudrajat-Syaikhu hanya dapat 7,9 persen. Lagi-lagi hanya satu persen di atas TB Hasanuddin-Anton dengan 6,5 persen.

Rekapitulasi Suara KPU

Hasil rekapitulasi resmi KPU menempatkan Sudrajat – Syaikhu di posisi kedua terbanyak dengan 6.317.465 suara dengan persentase 28,74. Ridwan-Uu hanya menang dengan selisih 4,14 persen atau 908.789 suara. Tentu hasil itu jauh di atas prediksi dari beberapa rilis yang dikeluarkan lembaga survei.

Di Jateng, dalam beberapa kali survei yang dikeluarkan menjelang hari H, pasangan Ganjar-Taj Yasin bahkan disebut tak terbendung. Lingkarang Survei Kebijakan Publik (LSKP) LSI dalam dua kali rilis yang mereka keluarkan, elektabilitas Ganjar – Taj Yasin mencapai angka 54 persen. Angka itu jauh di atas Sudirman Said-Ida Fauziyah yang hanya 13 persen.

Bahkan Charta Politika merilis angka elektabilitas Ganjar-Taj Yasin berada di angka 70,5 persen. Jauh di atas elektabilitas Said-Ida yang hanya 13,6 persen. Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politik menyebut ada kejomplangan pada elektabilitas kedua paslon cagub cawagub di Jateng.

Namun, lagi-lagi rilis kedua lembaga survei itu tak sepenuhnya benar dari hasil rekapitulasi yang dikeluarkan KPU usai pemilihan. Sudirman – Ida memang kalah, tapi perolehan suaranya jauh melebihi dari prediksi dua lembaga survei yang memprediksi pasangan itu yang tak beranjak dari angka 13 persen.

Rekapitulasi resmi KPU, mencatat perolehan Said-Ida hingga mencapai angka 41,22 persen atau 7.267.993 suara. Jauh dari angka survei mereka yang hanya 13 persen.

Survei Bukan Penentu Kemenangan

Melihat beberapa kasus di atas, hasil survei tak selalu berbanding lurus dengan hasil rekapitulasi KPU pada kontestasi pemilu di beberapa daerah. Di Jateng, kita bahkan bisa melihat angka fantastis dari elektabilitas pasangan Ganjar – Taj Yasin, bahkan hanya selisih tak lebih dari 10 persen. Padahal sebelumnya, hasil survei Charta Politik menyebut elektabilitas Ganjar – Taj Yasin berada di angka 70 persen.

Di DKI, Anis – Sandi yang pada putaran pertama selalu berada di urutan ketiga berdasarkan hasil survei, ternyata mampu masuk putaran ke dua, bahkan hingga melampaui perolehan suara Ahok – Djarot pada putaran kedua. Sebaliknya elektabilitas Agus – Sylvi yang digadang-gadang sebagai calon kejutan turun jauh dari elektabilitas yang mereka peroleh dari hasil survei.

Begitu pula di Jabar, pasangan Sudrajat-Syaikhu yang angka elektabilitasnya tak beranjak dari angka 7 persen berdasarkan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum.

Begitu pula dengan Pilkada 2020 sekarang. Meski semua lembaga survei, menyatakan bahwa elektabilitas kandidat tertentu unggul atas pasangan lain, bukan tidak mungkin yang menang survei mereka akan terjerembab, dan masuk dalam jurang kekalahan pada politik elektoral.

Mesin politik kandidat lain tidak bisa dianggap sebelah mata. Bola panas Pilkada masih bergulir, tentu hasil survei terakhir harus menjadi evaluasi jika kasus serupa tak mau terjadi.

Menentukan strategi dan penjagaan basis masa akan sangat menentukan hasil pilkada kali ini. Tetap Patuhi Protokol kesehatan, lawan Covid-19 dengan 3M (Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini