Kegiatan Advokasi dan Komunikasi Keluarga di Masa Pandemi Bersama Mitra Kerja oleh anggota DPR RI Komisi IX Muchamad Nabil Haroen yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Desember 2020 di Rumah Makan Embun Pagi Jl Jenderal Sudirman Jombor Bendosari Sukoharjo dimaksudkan untuk membumikan Gerakan 3M dan Gerakan menunda kehamilan.

Pandemi Covid – 19 merupakan situasi luar biasa, kita perlu langkah – langkah yang luar biasa juga. Gerakan 3 M yang selalu dikampanyekan harus menyatu ke dalam diri setiap masyarakat Indonesia. Gerakan 3 M tidak boleh hanya dijadikan semboyan atau malah bahan tertawaan.

Menurunnya angka kesembuhan pasien virus korona belakangan ini menunjukkan ketelodaran kita dalam menghadapi virus yang kasat mata ini. Segala kondisi yang menyebabkan penularan virus seperti kegiatan berkerumun, berpelukan, bersalaman yang sebelumnya menjadi kebiasaan harus kita hindari.

Bisa dibayangkan, ketika semua orang melakukan disiplin ketat menaati protokol kesehatan berupa Gerakan 3M. Kita akan mudah sekali menekan penularan virus korona. Cara yang bisa kita tempuh adalah upaya penyadaran pada diri setiap orang melalui sosialisasi terus menerus agar kita semua selalu ingat bahwa penyebaran covid – 19 banyak disebabkan dari pergerakan manusia.

Sosialisasi mengenai Gerakan 3M tentunya tidak dilakukan dengan satu pakem saja. Ada banyak cara yang bisa ditempuh agar masyarakat mudah memahami apa yang dimaksud Gerakan 3M. Penggunaan lagu dengan bahasa daerah misalnya, akan jauh lebih cepat dipahami, dimengerti dan diingat.

Kesempatan Sosialisasi Pembangunan Keluarga Bersama Mitra Kerja (BKKBN) Pada Masa Pandemi Covid-19 yang melibatkan unsur masyarakat bisa kita jadikan sarana untuk saling mengingatkan mengenai Gerakan 3M sekaligus mengkampanyekan isu pembangunan keluarga di masa pandemi.

Pembatasan aktivitas masyarakat dan ketidakpastian berakhirnya pandemi yang disebabkan virus korona menimbulkan kenaikan angka kehamilan.  Selama masa pandemi ini tercatata ada sekitar 4000 kehamilan tak direncanakan.

Pada kondisi seperti ini bukanlah waktu yang tepat untuk merencanakan kehamilan. Banyaknya klinik kesehatan dan kandungan yang tutup serta pengutamaan pelayanan pasien virus korona membuat masyarakat lebih sulit mendapatkan akses pelayanan kehamilan.

Menjalani kehamilan di tengah pandemi lebih berisiko. Ibu hamil yang lekat dengan rasa mual, malas makan akan berdampak pada penurunan daya tahan tubuh membuatnya semakin rentan terkena virus korona. Oleh karena itu anjuran menunda kehamilan adalah salah satu upaya untuk menekan angka pasien terpapar korona.

Bincang Majalengka

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Government